Integrasi Pembelajaran Dalam Event

Remaja pada umumnya kalau ditawari mau makan siang dimana, hampir bisa dipastikan jawabannya adalah restoran cepat saji dari Amerika. Begitu pula dengan gaya pakaian dan rambut misalnya, mereka akan bangga bila mengikuti gaya idola mereka entah artis entah pemain sepak bola yang kebanyakan luar negeri.

Budaya barat adalah budaya yang kekinian begitu kira-kira bahasa mereka saat ini, yang tidak mengikuti dianggap kuno bahkan kampungan.

Era globalisasi yang bebas tanpa batas ditambah dengan dukungan kemajuan teknologi membuat anak-anak begitu mudah mengakses segala informasi dan hingga mengikis jati diri.

Sambutan Pembukaan Acara Nusantara Day oleh Bapak Gubernur Gorontalo – Drs. H. Rusli Habibie, MAP 

Lunturnya nilai-nilai kearifan lokal sebagai karakter positif bangsa membuat mereka (baca : generasi muda) menjadi asing di negerinya sendiri. Tidak mengenal budayanya sendiri namun lebih familiar dengan budaya asing.

Sekolah memiliki peran yang strategis dalam membentengi siswa dari pengaruh negatif budaya asing. Apalagi bagi sekolah yang sudah menerapkan sistem full day school, memiliki lebih banyak waktu dan kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai positif karakter bangsa.

Mengenalkan budaya bangsa bisa dikemas dalam suatu event yang menarik dengan melibatkan siswa dan orang tua. Sabagaimana event Nusantara Day di SIT Fajar Hidayah Kota Wisata pada Senin, 13 Maret 2017.

Siswa TQ, SD, SMP dan SMA berkolaborasi memeriahkan event dengan berbagai performance dan memamerkan berbagai hasil karya keanekaragaman kekhasan daerah dari berbagai provinsi.

Miniatur rumah adat, peta, aneka kerajinan dan berbagai artikel tentang kebudayaan terpajang di sepanjang koridor. Ada Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Bali, dan Papua.

Event semakin meriah dengan kehadiran gubernur Gorontalo, Bpk Drs. H. Rusli Habibie, M.AP dan kepala dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Bpk H. TB. A. Lutfi Syam, M.Si.

Beberapa keuntungan yang didapatkan melalui penyelenggaraan event Nusantara Day adalah:

  • Siswa aktif terlibat, mereka sebagai pelaku proses pembelajaran itu sendiri, aplikasi konsep inqury, siswa mencari sendiri berbagai jawaban atas segala pertanyaan sehingga pemahaman ilmu sosial seperti budaya, sejarah dan adat istiadat berbagai daerah di Indonesia dapat dengan mudah terinternalisasi.

  • Menumbuhkan rasa cinta tanah air, dengan menggunakan berbagai kostum daerah, menyanyikan lagu-lagu daerah dan drama tentang penyelamatan Orang Utan sebagai ekspresi penghargaan dan usaha pelestarian terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa.
  • Membentuk komunitas pembelajar (learning community) karena tidak hanya elemen sekolah yang terlibat, namun juga orang tua, masyarakat, pengawas pendidikan serta pejabat daerah berkumpul bersama dalam satu kegiatan penuh makna.
  • Mengasah kreativitas siswa dan guru, mereka berkreasi menghasilkan hasil karya menggunakan barang bekas.
  • Penyelenggaraan event sebagai bagian proses pembelajaran. Beberapa pelajaran dapat langsung mengevaluasi siswa seperti guru seni budaya dapat menilai melalui hasil karya dan guru Bahasa menilai melalui hasil penulisan artikel oleh siswa.

Sehingga penyelenggaraan event dapat dimaknai sebagai upaya memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi seluruh warga sekolah untuk aktif, kreatif dan inovatif. (fsh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *